English        |        Bhs. Indonesia
* Source Google Maps
Feb 24 (Jum), 2017   
KOSDAQ 2052.77
KOSPI 686.18
100 IDR/KRW 8.34
USD/KRW 1136.5950

KRW :   X
USD : X
IDR : X
* Source Yahoo.Finance
Pasar Kkangtong, Dimana Tradisi Bertemu dengan Modernitas di Malam Hari

Okt 28, 2016


Pasar malam Kkangtong di Busan yang dipenuhi dengan pengunjung. (Yonhap)


Dengan punggungnya yang membungkuk, Min Geum-joo menggerak tangan keriputnya dengan terampil untuk membuat "Busan Bibim dangmyeon", mie dingin kenyal dengan beberapa topping sayuran.

Dengan permintaan untuk semangkuk mie kurang pedas, nenek 79 tahun ini hanya selalu tersenyum. Dia tidak hanya masternya dari memasak makanan daerah ini tetapi juga saksi hidup dari Pasar Bupyeong Kkangtong, yang dikenal sebagai pasar malam yang pertama kali berdiri di Korea Selatan.

"Ibu saya membuka restoran ini setelah Perang Korea (1950-1953)", katanya dengan memandang foto hitam putih dari mendiang ibunya yang tergantung di dinding.

Min Geum-joo, 79 tahun, membuat Bibim dangmyeon, mie dingin, di retorannya di Pasar Bypyeong Kkangtong di Busan. (Yonhap)


Restoran kecilnya ini mengkhususkan diri dalam Bibim dangmyeon, fried tofu pocket dan berbagai jenis sup, dengan tulisan di pintu masuk, "Popular for the second consecutive generation".

Tempat yang relatif tenang ini tampaknya menjadi dunia yang berbeda dari tempat di luar pintu, ramai dengan orang-orang, sebagian besar masih muda, dan kehidupan malam. Seperti banyak orang lain yang telah mengoperasikan restoran atau toko-toko di sini selama beberapa dekade, Min selalu berpikir tentang facelift dari pasar.

"Ya, ada banyak orang muda di pasar ini saat ini. Tapi itu tidak membantu besar bagiku, terus terang," kata Min. "Mereka jarang yang kesini untuk makan".

Dia biasanya melayani pelanggan, sebagian besar setengah baya atau lebih tua, untuk sarapan atau makan siang sebelum pasar malam dimulai pukul 7:30 pm dan daerah ini berubah menjadi dunia baru, yang dijuluki "fusion food paradise" atau "fusion buffet".

Pengunjung berjalan-jalan di pasar malam Kkangtong di Busan. (Yonhap)


Terletak di daerah shoreside di distrik selatan Jung-gu, Pasar Bupyeong Kkangtong lahir sekitar satu abad yang lalu dengan nama yang berbeda. Pasar ini berbatasan dengan dua pasar tradisional utama Busan lainnya - Jagalchi dan Gukje.

Jagalchi adalah pasar seafood terbesar di Korea Selatan. Gukje, awalnya dibentuk oleh para pengungsi Perang Korea, menjual pakaian, mesin, elektronik, peralatan dapur, produk pertanian, produk susu, dan berbagai produk lainnya untuk harga grosir.

Pasar Kkangtong terutama berkembang di berbagai makanan kaleng yang diimpor dari Amerika Serikat untuk pasukannya yang ditempatkan di Korea Selatan selama dan setelah Perang Korea, yang kemudian mendapatkan namanya, Kkangtong (kaleng).

Sama seperti pasar tradisional lainnya di Korea Selatan, namun, Kkangtong telah memberikan jalan untuk cabang supermarket dan pusat perbelanjaan.

Sebuah poster untuk mempublikasikan Scotch egg barbecue. (Yonhap)


Dalam upaya untuk membantu menghidupkan kembali pasar ini, pemerintah kota Busan membuka pasar malam outdoor di bagian dari Kkangtong tahun 2013, yang memiliki konsep seperti pasar street food Thailand dan pasar malam Taiwan.

Menjadi sulit untuk melewati jalanan di pasar ini karena ribuan orang sering datang di setiap malam. Sebuah aturan disana adalah jalur kanan untuk berjalan saja.

Cuban-style bulb-shaped cups of juice, yang disebut "bulbade." (Yonhap)


Mereka melayani berbagai macam minuman, termasuk jus beras manis, dan juga memiliki makanan Korea, internasional dan fusi. Beberapa aksesoris dan suvenir lainnya juga dijual disini. Sebagian besar makanan bisa dipesan dan hanya uang tunai yang diterima.

Seorang penjual di pasar malam Kkangtong memasak makanan. (Yonhap)


Makan sambil berdiri atau berjalan di sepanjang jalan setelah menunggu lama untuk dilayani adalah umum di sini, karena hampir tidak ada kursi yang tersedia.

"Makanannya sangat beragam dan menarik. Suasana hati menjadi hidup. Ini tidak terasa seperti pasar tradisional dengan citra tua dan usang. Saya berharap akan ada satu seperti ini di dekat rumah saya", kata Kim Jie-eun, seorang pekerja kantor dari Ansan.

Sekelompok pengunjung tengah makan sambil berdiri di samping penjual makanan. (Yonhap)


Pasar malam Kkangtong ini adalah tempat di mana pemuda bertemu dengan orang-orang tua. Pasar ini menawarkan perpaduan tradisi, modernitas dan globalisasi dalam berbagai hal bukan hanya dengan makanan, tetapi juga vendor.

"Ini adalah hidangan tradisional Harbin," kata Han Dan, seorang etnis Korea dari kota di provinsi Heilongjiang Cina, sambil menunjuk ke stir-fried egg dengan mie dingin. "Kami tidak menggunakan merica, karena beberapa warga Korea tidak menyukainya".

Han Dan (kiri), seorang etnis Korea dari Harbin, Cina, berpose dengan ibunya


Dia menjalankan stan makanan dengan bantuan ibunya. Han, sekarang hamil, pertama kali pindah ke Korea Selatan delapan tahun yang lalu dan ibunya mengikuti.

Ri Ja-song adalah etnis Korea lain dari luar Korea Selatan yang bekerja di pasar malam.

"Maaf, aku terlalu sibuk untuk berbicara dengan anda sebelumnya", ia dengan lembut meminta maaf dan akhirnya menerima permintaan wawancara dengan istrinya berdiri di sampingnya. "Kami memulai bisnis ini hanya sebulan yang lalu berdasarkan pengalaman memasak di Cina setelah membelot dari Korea Utara."

Dia menjual tofu ala Korea Utara dan hidangan cumi-cumi di stannya yang bernama "Unification Sunny".

Beberapa pengunjung menunggu untuk dilayani di depan gerobak makanan warga Korea Utara. (Yonhap)


Ri, yang berasal dari Chongjin, Provinsi Hamgyeong Utara, sedang mempersiapkan untuk menyelesaikan karyanya sebelum tengah malam, saat pasar tutup.

"Kami datang ke Korea Selatan setengah tahun yang lalu melalui China. Kami juga berencana untuk mengoperasikan truk makanan di bawah program Kementerian Unifikasi," katanya.

Pasar malam ini, memang, telah muncul sebagai tempat wisata populer, remaja, mahasiswa, pasangan kencan dan penduduk setempat serta keluarga. Ini bisa menjadi contoh bagi pasar tradisional lainnya yang berjuang untuk bertahan.

Pedagang Turki yang menjual kebab di pasar Kkangtong. (Yonhap)


Meskipun banyak hal untuk dilihat dan dimakan, pengunjung asing jarang terlihat.

"Saya hanya melihat sekitar. Saya tidak akan mencoba makanan di sini karena saya tidak tahu tentang bahan-bahan. Saya khawatir tentang perut saya", gurau Iosu Berasteeu, 32 tahun, dari Spanyol.

Karyawan pabrik logam ini dan dua temannya sedang berlibur di Korea Selatan setelah mengunjungi Jepang pada perjalanan regional yang juga akan membawa mereka ke China.

"Pasar malam ini sendiri tidak terlalu istimewa bagi saya. Ada yang serupa di Spanyol. Saya telah melihat beberapa di negara-negara Asia Tenggara juga," tambahnya.

Wisatawan Spanyol berpose saat mengunjungi pasar malam Kkangtong di Busan. (Yonhap).


Tapi Edich Klomp, seorang warga negara Belanda, mengatakan suasana di pasar ini "eksotis".

Pada perjalanannya ke Korea Selatan untuk pernikahan keponakannya, ia mengunjungi pasar ini dari rekomendasi karyawan hotel.

"Jika anda mengatakan ada sedikit pengunjung asing di sini, saya akan mengatakan mereka perlu berbuat lebih banyak untuk publisitas", katanya.

Masalah lain, jauh lebih besar, gesekan internal antara pedagang tradisional dan pedagang kaki lima, yang Min singgung. Untuk beberapa, itu adalah masalah kelangsungan hidup. Mereka mengeluh tentang kemacetan dan sewa yang lebih tinggi. Mereka mungkin ingin hidup "normal" dan berbisnis sebelum pembukaan pasar malam.

Pasar malam diskors untuk beberapa hari tahun lalu karena keretakan antara asosiasi store vendor dan "pendatang baru".

Sementara zona bisnis malam dari Pasar Bupyeong Kkangtong ramai dengan orang, sebagian besar toko-toko lain di pasar ditutup setelah dibuka siang hari. (Yonhap)


Konflik dapat muncul kembali setiap saat dan itu perlu untuk mengamankan kondisi untuk operasi yang stabil dari pasar malam dari perspektif jangka panjang, kata pejabat kota.

"Kecuali baris diselesaikan, pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan pada seluruh pasar," seorang pejabat di Jung-gu mengatakan, meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Min berharap bahwa Pasar Bupyeong Kkangtong akan terus tumbuh sebagai situs bagi generasi muda dan bahkan orang asing untuk mencoba Bibim fangmyeonnya, dengan semangkuk seharga 4.000 won (US$3,50), malam ini atau beberapa hari.

•Petunjuk ke Pasar ini: Busan bisa diakses dengan kereta api KTX dan bus ekspres dari kota-kota besar. Terletak di bagian selatan kota, pasar terhubung ke beberapa kereta bawah tanah dan bus, termasuk stasiun Jagalchi dan Toseong di Busan Subway Line 1. Rute busa meliputi 103, 11, 113 dan 126 dan pengunjung dapat turun di Stasiun pasar Bupyeong Kkangtong dan Bosu-dong Book Alley. Alamatnya adalah 32 Bupyeong-dong-2-ga, Jung-gu, Busan, Korea Selatan.

Sebuah tanda untuk Pasar Bupyeong Kkangtong.(Yonhap)


Sohee
Sumber:Yonhap News


               

You May Also Like
Komentar (0)