English        |        Bhs. Indonesia
* Source Google Maps
Jan 22 (Mng), 2017   
KOSDAQ 2052.77
KOSPI 686.18
100 IDR/KRW 8.34
USD/KRW 1136.5950

KRW :   X
USD : X
IDR : X
* Source Yahoo.Finance
Keindahan 'jogakbo' Ditampilkan Kembali

Des 4, 2016


"Jogak Sangbo" (taplak meja tambal sulam) dari abad ke-19 / Museum Bordir Korea


Jogakbo (조각보), sebuah sulaman dari potongan-potongan kain berwarna-warni, semacam "bojagi" (보자기, kain pembungkus tradisional Korea). Ini adalah kombinasi dari potongan kain dalam berbagai warna dan bentuk yang hampir kontemporer. Sebuah pameran "Aesthetic Beauty of Jogakbo" di Museum Bordir Korea di Seoul selatan menyoroti bojagi yang unik.

"Budaya bojagi, atau kain pembungkus tradisional, hanya bertahan di beberapa negara seperti Turki, Jepang dan Korea," kata kurator museum Lee Hye-kyu.

Lee menambahkan keunikan Jogakbo adalah karakteristik utama dari "hanbok," atau kostum tradisional Korea - berbentuk kurva.

"Di Korea, jogakbo buatan tangan adalah salah satu jenis yang paling populer dari pembungkus kain, sementara sebagian kain pembungkus diproduksi secara massal menggunakan pencetakan di negara tetangga Jepang," kata Lee. "Hanbok (한복) memiliki bentuk bulat di lengan dan bagian-bagian lain, sehingga pasti meninggalkan sisa kain ketika membuatnya. Kain yang tersisa itu kemudian digunakan untuk membuat jogakbo, atau kain perca pembungkus Korea."

“Gojeonmun Sangbo” (taplak meja motif koin)


Lee menjelaskan sistem klasifikasi bojagi, yang dapat dikategorikan mnejadi bahan, penggunaan dan metode produksinya.

"Bojagi dengan simpul di tengah disebut 'Sangbo' dan digunakan untuk menutupi barang. Jenis dengan benang yang melekat pada sudut-sudut yang disebut 'otbo' atau 'ibulbo' dan terutama digunakan untuk pembungkus baju atau tempat tidur," kata Lee.

"Pada dasarnya konsep jogakbo adalah menjahit sisa kain, sehingga tidak dibuat dimana pasokan kain berlimpah. Kami memiliki bojagi sutra milik seorang putri yang terbuat dari bagian dari sutra. Kecenderungan berubah dari waktu ke waktu dan keindahan jogakbo kemudian menjadi budaya kerajaan, "kata Lee.

Memang jogakbo yang diduga bersal dari istana tidak menunjukkan tanda-tanda, yang menunjukkan hal itu adalah bahwa jogakbo sebenarnya digunakan untuk tujuan dekoratif, bukan benar-benar digunakan untuk membungkus sesuatu.

"Kain yang digunakan untuk bojagi ini sangat baik dan berkualitas tinggi dan memiliki jahitan yang sangat indah, jadi kami pikir ini adalah karya dari istana atau dari masyarakat kelas tinggi," kata Lee.

Mencerminkan ketertarikan yang tinggi terhadap bojagi dari luar negeri, sekitar 80% pengunjung museum adalah orang asing, terutama dari Jepang.

"Jepang memiliki budaya populer menjahit dan mereka tertarik pada kain perca Korea yang rumit," kata kurator Lee.

Koleksi seumur hidup Huh Dong-hwa

"Myeongju Jogak Otbo "(sulam tambal kain pembungkus dari sutra untuk menyimpan pakaian)


Tampilan di museum berputar untuk menampilkan koleksi direktur Huh Dong-hwa yajni kostum tradisional Korea, bordir dan item kain lainnya. Lee mulai mengumpulkan pada tahun 1960 dan sekarang koleksinya mencapai sekitar 3.000 item.

"Di bawah pemikiran Konfusius di Korea, orang berpikir menggunakan pakaian dari kain yang indah ini. Aku tidak punya pilihan selain mengumpulkan ini sebelum mereka semua dijual ke orang asing yang sudah melihat keindahan estetika di dalamnya," kata Huh.

Di antara koleksinya, bojagi adalah yang paling banyak, yaitu sekitar setengah dari total.

"Pada awalnya, saya mengumpulkan bojagi bordir, tapi segera saya menyadari keindahan jogakbo," katanya.

Bojagi adalah budaya berasal dari "gyubang," atau tempat perempuan, dan hampir tidak satupun dari mereka memiliki nama pembuatnya.

"Sangat disayangkan bahwa kita tidak bisa menentukan siapa pembuat sulaman yang indah ini," kata Huh. "Sebagian besar budaya tradisional Korea tersebut diberikan untuk laki-laki, tapi bojagi dan bordir diciptakan oleh perempuan. Saya pikir waktunya telah tepat untuk mengakui pekerjaan artistik wanita Korea."

Huh mengatakan jogakbo tersebut setara dengan potret keluarga sebelum fotografi ditemukan. "Sebuah jogakbo mengandung kehidupan wanita yang menjahitnya. Warna merah dan kuning dari gaun yang dikenakannya untuk pernikahan dan potongan biru dari seragam resmi suaminya. Potongan-potongan warna-warni mungkin berasal dari pakaian anak-anaknya," katanya.

"Saya pikir jogakbo mirip dengan seni abstrak geometris oleh Piet Mondrian atau Paul Klee. Bojagi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di Korea dan sulit bagi kita untuk menemukan nilai-nilai artistik di dalamnya, tetapi ketika dipamerkan di luar negeri, orang asing dengan mudah menemukan keindahan estetika dari jogakbo. Mungkin itu sebabnya jogakbo yang dipamerkan diantaranya koleksi saya sebagian besar dilakukan di luar negeri. "

Pada awalnya, Huh memperkenalkannya sebagai kain pembungkus, tapi dia bersikeras menggunakan bojagi Korea untuk lebih mewakili keunikan mereka.

"Suatu hari, bojagi akan diakui sebagai seni abstrak, seperti lukisan Kim Whan-ki," kata Huh.

Tiket masuk museum bordir Korea gratis. Museum ini terletak di dekat pintu keluar no. 10 dari Stasiun Hakdong di jalur kereta bawah tanah no. 7. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.bojagii.com atau hubungi 02-515-5114.

Rifa
Sumber:The Korea Times


               

Related article

You May Also Like
Komentar (0)