English        |        Bhs. Indonesia
* Source Google Maps
Apr 24 (Sen) , 2017   
KOSDAQ 2052.77
KOSPI 686.18
100 IDR/KRW 8.34
USD/KRW 1136.5950

KRW :   X
USD : X
IDR : X
* Source Yahoo.Finance
Honsul, Seni Menikmati 'Minum' Sendirian

Jan 7, 2017


Seorang pelanggan berbicara dengan bartender di sebuah hip bistro di Seoul yang melayani pelanggan yang datang untuk minum sendirian. (Joel Lee/The Korea Herald)


Dengan tatapan termenung, Park Si-in menyeruput sebuah koktail seperti wiski, di sebuah dim, jazzy bistro yang terletak di gang gentrified di Seoul.

"Saya tidak berpikir tentang apa pun," katanya. "Saya datang ke sini untuk mengosongkan dan mengatur pikiran saya. Saya membutuhkannya, teratur dan secara pribadi. Minum sendirian sebenarnya menyenangkan".

Di sampingnya, Kang Dong-wan, seorang mahasiswa jurusan desain grafis, berbicara dengan bartender.

"Bar terasa sebagai semacam rumah sakit jiwa, ruang penyembuhan", jelas Kang, dalam sebuah wawancara dengan The Korea Herald. "Setiap orang saat ini memiliki waktu yang sulit dalam hidup mereka. Orang-orang membutuhkan ruang di mana mereka dapat membiarkan rahasia dan perasaan mereka keluar. Sulit untuk melakukan itu dengan teman-teman, jadi itu sebabnya saya datang ke sini, untuk berbicara dengan bartender".

Di tengah munculnya rumah tangga single di Korea - semakin banyak orang yang mengambil kebiasaan minum sendrian, sebuah fenomena yang dikenal secara lokal sebagai "honsul (혼술)". Peningkatan jumlah bar yang melayani honsul, dan prakteknya telah didramatisasi di drama.

"Manfaat terbesar dari hidup sendiri adalah menemukan waktu dan ruang untuk merebut kembali kesendirian", tulis Eric Klinenberg, profesor sosiologi di New York University, di internasional best seller-nya "Going Solo: The Extraordinary Rise and Surprising Appeal of Living Alone".

Profesor Andrew Kim, sosiolog dan dekan Korea University's Graduate School of International Studies, mengatakan pada The Korea Herald bahwa tren ini adalah counterreaction untuk "obsesi yang berlebihan" orang dengan groupthink mentality.

"Korea tidak bisa mengatakan 'tidak' untuk kegiatan kelompok", kata Kim. "Ada sacrosanctity tersirat dalam melakukan segala sesuatu 'bersama-sama,' dasar yang membentuk Konfusianisme. Hal ini dapat menempatkan banyak stres pada orang yang memiliki sedikit waktu untuk diri mereka sendiri".

Karena kebutuhan umum untuk "save face", banyak orang Korea dengan terpaksa harus iut makan dan minum dengan orang lain, katanya, menambahkan bahwa orang-orang ini hanya mulai menghargai kebajikan privasi.

Song Eun-jin, yang menjalankan bar Saraswati di Yeonnam-dong, Seoul utara, mengatakan banyak dari pelanggannya datang sendirian, mencerminkan demografi di lingkungan tersebut. (Joel Lee/The Korea Herald)


Song Eun-jin, yang menjalankan bar Saraswati di Yeonnam-dong, Seoul utara, mengatakan banyak dari pelanggannya datang sendiri, mencerminkan demografi di lingkungan tersebut.

"Sekitar 60 persen dari klien kami adalah sendirian dan laki-laki, biasanya mereka diusia pertengahan 30-an. Beberapa berbagi gosip dengan saya dan mengadukan kekhawatiran dan keprihatinan mereka", tambahnya.

Sebagai kota yang telah menjadi lebih mewah dan mahal dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh gentrifikasi kelas atas distrik Hongdae di dekatnya, ruang tearsa menjadi lebih ketat, mendorong banyak orang single keluar dari rumah mereka.

"Sebagian besar dari mereka datang ke sini untuk menikmati kesendirian," Song mengamati. "Mereka membaca buku, mendengarkan musik, melakukan pekerjaan mereka atau hanya melongo dalam keheningan. Terus-menerus diganggu di tempat kerja, aku bisa melihat ada upaya sadar saat ini untuk menikmati dalam kesepian".

"Minum sendirian tidak berarti seseorang yang kesepian dan putus asa", kata Song. "Sebaliknya, orang minum sendiri demi reclusiveness. Setelah anda menguasainya, itu mengejutkan tak tertahankan".
Sohee
Sumber:The Korea Herald


               

You May Also Like
Komentar (0)