English        |        Bhs. Indonesia
* Source Google Maps
mei 30 (Sel), 2017   
KOSDAQ 2052.77
KOSPI 686.18
100 IDR/KRW 8.34
USD/KRW 1136.5950

KRW :   X
USD : X
IDR : X
* Source Yahoo.Finance
Monk Buddha Berbagi Rahasia Hidup Sehat dengan Makanan Kuil

Jan 21, 2017


Ven. Sunjae berpose di depan makanan kuil. / Bulkwang Media


Tidak seperti di kota, Ilwon-dong, jauh di selatan Seoul, di mana gedung Asosiasi bhiksuni Korea terletak, tertutup salju pada minggu kedua dari Januari.

Pada kelas memasak yang diadakan di dalam gedung, Ven. Sunjae berdiri di depan siswa, yang semuanya mendengar dan menulis catatan saat dia menjelaskan tentang Makanan kuil dan makanan ritual Buddha.

"Kalian bisa membuat pancake dengan azalea, karena bunga ini baik untuk batuk dan hidung tersumbat, tapi azalea istana atau rhododendron akan membunuhmu jika kamu memakannya," kata Ven. Sunjae, Master pertama dari makanan kuil yang ditunjuk oleh Orde Jogye.

Azalea digunakan pada hari ketiga dari bulan lunar ketiga, yang menandai awal musim semi. Dia mencatat bagaimana pada ulang tahun Buddha, menu terutama adalah kue beras yang dibuat dengan zelkova, hidangan water parsley yang disebut "Minari ganghoe" dan kacang goreng. Sup kue beras (tteokguk), pangsit dan kue beras dengan jujubes antara makanan kuil dikonsumsi pada Tahun Baru Imlek; sementara marsh plant rice cake dikonsumsi pada Dano, hari libur yang jatuh pada hari kelima bulan kelima lunar, di mana orang berharap untuk panen yang melimpah.

Mkanan kuil berfokus pada makan pada waktu yang tepat, makan makanan musiman, makan secara proporsional dan menghindari daging. Selain itu, tidak menggunakan lima bahan Korea umum: bawang putih, bawang hijau, daun bawang, daun bawang liar dan squill Cina.

Ven. Sunjae berbicara dengan semangat dan cepat, dengan setiap kata adalah pengetahuan tentang hijau, herbal, kue beras dan teh. Dia mulai memasak sup dengan tahu-dan-sayur dan bekerja cepat dengan tangannya.

"Tidak peduli seberapa buruk di tempat kerja seorang monk, kami selalu lebih cepat dari kalian", katanya, bercanda dengan penonton dari asisten pengajar dan siswa.

Dicintai dan dihormati untuk makanan kuilya, Ven. Sunjae baru-baru ini merilis buku ketiga, "What are You Eating Now?"

Hari-hari ini, dia sendiri menikmati kimchi dan kedelai pasta rebus, katanya.

Baginya, makanan adalah tentang memberikan kasih sayang, yang membuat orang bahagia. Tapi dasar untuk berlatih kasih sayang adalah merawat dan menghormati semua makhluk hidup, katanya. Orang harus bahagia, begitu juga dengan tanah, angin dan udara.

Pikiran bersih dan sehat terletak pada tubuh yang bersih dan sehat dibentuk dengan makan bahan yang sehat, hidup di tanah, angin dan udara yang bersih. Pendekatan ini berlaku untuk praktisi Buddhis dan orang awam. "Banyak kesengsaraan modern dapat diselesaikan melalui ini," katanya, seperti stres yang berasal dari kompetisi yang berlebihan karena keserakahan. Dia juga percaya bersikap jujur ​​pada diri sendiri, baik dalam kehidupan dan dalam memasak.

Baik bukunya maupun prestasi yang lain dalam makanan kuil diselesaikan dalam satu hari. Didiagnosa sirosis hati membuatnya memilih jalan menuju makanan, dan dia telah mempertahankan gaya hidup sehat sejak saat itu. Untuk hari ini, dia tidak menderita komplikasi sirosis.

Ven. Sunjae berpose dalam buku barunya "What are You Eating Now" / Bulkwang Media


Dia mulai hidup monastik di uil Sinheung di Hwaseong, provinsi Gyeonggi pada tahun 1980. Dia lulus dari Joongang Sangha University pada tahun 1994; tesisnya, "A Cultural Review of Temple Food", mendapat perhatian publik.

"Monks belajar tentang bahan-bahan dari orang tua mereka, dan kadang-kadang dari hewan di pegunungan, melalui energi mereka mencapai dari praktek," kata Ven. Sunjae. Dia mengatakan banyak pengetahuan berasal dari kitab Buddha, namun ia juga belajar dari berbicara dengan tanaman. Dia percaya pada keterhubungan makhluk hidup dan bumi.

Bukunya, "What are You Eating Now?" termasuk resep mudah bagi orang Korea modern yang sibuk. "Use seasonal food, ingredients that survived the seasons", ia menyarankan.

Dia juga populer di luar negeri dan sering diminta untuk mengajar di lembaga di Korea dan luar negeri. Seorang mantan kepala koki di Park Hyatt di Seoul sering berkonsultasi padanya tentang makanan Korea.

Sunjae memasak dengan tulus, pikiran yang rendah hati - ketika memasak, dia percaya untuk menjadi benar perlu niat dan untuk menghindari kesombongan.

Tofu-and-vegetable pocket stew


Selama kelasnya, ia menunjukkan bagaimana mempersiapkan Tofu-and-vegetable pocket stew sederhana menggunakan bahan-bahan berikut: fried tofu bags (12), tahu (1/2), cabai hijau (2), jamur shiitake (6), zucchini Korea (1/2), water parsley stem (12), wortel, jamur kancing (7), biji pinus, gingko (12), tauge (satu bungkus), jamur musim dingin (1/2), paprika kering, rumput laut kering , garam, saus kedelai dan biji tanah wijen. Pertama, ia sedikit merebus tofu pocket dan kemudian dicuci dalam air dingin. Kemudian, dia hancurkan tahu dan direndam dalam garam. Dia mengiris jamur shiitake, paprika, zucchini dan wortel menjadi potongan-potongan kecil dan goreng dalam garam. Dia mengisi tofu pocket dengan tofu, sayuran, ginko dan biji pinus dan mengikat mereka dengan water parsley stem. Sunjae membuat tauge rebus, dan kemudian memasukkan lada kering, rumput laut dan jamur lain dan tofu bag dialam, sebelum menambahkan air dan membiarkannya mendidih. Kemudian dia menambahkan saus kedelai dan membiarkan rebusan mendidih selama dua sampai tiga menit.

tteokguk


Dalam bukunya, ia menulis tentang bagaimana dia membuat tteokguk (떡국), hidangan populer di Tahun Baru untuk tamu. Untuk bahannya, ia menggunakan lobak besar Korea, rumput laut, dan kue beras. Pertama Sunjae mengiris lobak dan merendam potongan dalam air. Dia kemudian menggoreng dengan rumput laut dan irisan lobak dalam minyak biji perilla. Ketika lobak transparan, dia menuangkan air panas ke dalam panci dan biarkan mendidih sup, tutup. Ketika sup memutih, ia menambahkan saus kedelai; kue beras, iris memanjang, ke dalam panci ketika sup direbus, membiarkannya masak sampai bahan-bahan lembut.

"Klian tahu, judul buku yang bertanya pada kita apa yang kita makan, beritahu kita bahwa ada masalah dengan makanan yang kita makan", katanya. "Hal ini juga tentang tidak makan apa yang buruk bagi kita, bukan apa yang harus dimakan, dan makan cukup".

Sohee
Sumber:The Korea Times


               

Related article

You May Also Like
Komentar (0)